Executive Summary ▼
- Bantuan gempa Manggarai Timur dari warga Kota Bandung dititipkan ke Baznas RI senilai kurang lebih Rp2,032 miliar, dengan mayoritas penyaluran di Kampung Waso.
- Kebutuhan warga telah bergeser ke fase pemulihan awal: hunian sementara, ruang kelas darurat, dan masjid darurat menggantikan fokus tanggap darurat seperti dapur umum dan MCK.
- Baznas RI memperkirakan proses pendampingan pemulihan memakan waktu enam bulan hingga satu tahun, disesuaikan kondisi masyarakat terdampak.
SiarWarta.com — Penanganan bencana gempa di Manggarai Timur resmi memasuki fase pemulihan awal atau early recovery. Pada tahap ini, bantuan gempa Manggarai Timur mulai diarahkan pada pembangunan kembali sarana kehidupan sehari-hari, mulai dari hunian sementara hingga fasilitas ibadah pendidikan bagi warga yang rumahnya rusak.
Direktur Pendistribusian Baznas RI, H. Ahmad Fikri, menegaskan fokus bantuan kini bergeser dari kebutuhan mendesak menuju rekonstruksi awal.
Pada fase tanggap darurat sebelumnya, penyaluran lebih difokuskan pada layanan kesehatan, dapur umum, dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Keadaan itu berubah seiring warga mulai membangun kembali kehidupan mereka.
Ahmad Fikri menyebutkan, bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah hunian sementara, ruang kelas darurat untuk sekolah yang hancur, dan masjid darurat untuk tempat ibadah yang rusak.
"Bantuan yang dibutuhkan saat ini adalah hunian sementara, bangunan fisik darurat seperti ruang kelas bagi sekolah yang hancur, dan masjid darurat bagi tempat ibadah yang rusak agar masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa," ucapnya.
Ia menerangkan kondisi lapangan masih menyisakan banyak reruntuhan dan puing bangunan akibat gempa. Kesadaran itu mendorong penyediaan paket logistik keluarga berupa sembako yang tetap disalurkan, lantaran ekonomi warga belum sepenuhnya pulih.
"Warga masih fokus membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan sekolah anak. Layanan kesehatan juga tetap berjalan, mengingat warga masih tinggal di tenda darurat dan kondisi fisik mereka cukup terganggu," ucapnya.
Dukungan bagi masyarakat terdampak datang dari berbagai unsur Kota Bandung, mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), warga, hingga Bank BJB.
Ketua Baznas Kota Bandung, Momon Ahmad Imron Sutisna, mengatakan total dana yang dititipkan kepada Baznas RI mencapai kurang lebih Rp2,032 miliar. Dana itu dialokasikan untuk sejumlah program bantuan, meski mayoritas penyaluran dilakukan di Kampung Waso.
"Pelaksanaan penyaluran bantuan di lokasi dikelola sepenuhnya oleh Baznas RI. Hari ini kami menyerahkan dan melihat langsung bantuan dalam bentuk fisik yang telah disiapkan oleh Baznas RI," ujar Momon, Kamis, 1 Oktober 2026.
Momon menjelaskan skema kerja sama yang memisahkan peran antara kedua lembaga. Penghimpunan dana dilakukan Baznas Kota Bandung, sementara pengelolaan dan penyaluran di lokasi bencana dipegang Baznas RI. Pemisahan ini dirancang agar bantuan tepat sasaran berdasarkan hasil asesmen kebutuhan masyarakat di lapangan.
Rincian program bantuan telah disampaikan oleh Direktur Pendistribusian Baznas RI, dengan pelaksanaan bertahap menyesuaikan kondisi wilayah terdampak.
Paket bantuan mencakup biaya dan sarana pendidikan bagi anak-anak yang masih bersekolah, pendirian masjid, penyediaan hunian sementara, dan kebutuhan hidup berupa sembako.
Ahmad Fikri menambahkan, dukungan kepada masyarakat terdampak tidak berhenti pada penyaluran bantuan awal. Baznas RI bersama Baznas Kota Bandung, Pemerintah Kota Bandung, dan Bank BJB masih membuka ruang dukungan dan pendampingan sepanjang proses pemulihan berjalan.
Estimasi waktunya mencapai enam bulan hingga satu tahun, bergantung perkembangan kondisi masyarakat dan pembangunan kembali pascabencana.
"Kami memperkirakan dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan masih perlu mendampingi mereka agar bisa pulih dan beraktivitas kembali seperti semula," pungkasnya. Momon berharap kepedulian warga Kota Bandung terus mengalir mengingat kebutuhan masyarakat di sana masih sangat besar.
