Lewati ke konten
WartaTerkini:

Menteri Komunikasi dan Digital Ajak Alumni UNSW Perkuat Kontribusi bagi Pembangunan Indonesia

SiarWarta

Oleh Redaksi SiarWarta

Kamis, Oktober 01, 2026 --:-- WIB

meutya-hafid-serukan-alumni-unsw-manfaatkan-keahlian-ai
Meutya Hafid mengajak alumni UNSW mengarahkan keahlian AI, keamanan siber, dan energi berkelanjutan untuk mendukung pembangunan Indonesia melalui alumni chapter yang dibentuk kembali. | Foto: Dok, Komdigi
Executive Summary ▼
  • Alumni UNSW diajak Meutya Hafid mengarahkan keahlian di bidang kecerdasan artifisial, keamanan siber, pendidikan, dan energi berkelanjutan bagi pembangunan Indonesia.
  • Meutya Hafid menegaskan pengembangan teknologi harus bertanggung jawab, menjamin manfaat bagi manusia, dan mengendalikan risiko yang ditimbulkannya.
  • UNSW Indonesia Alumni Chapter dibentuk kembali sebagai ruang pertukaran gagasan, kolaborasi lintas bidang, dan perumusan solusi persoalan Indonesia.

SiarWarta.com, Jakarta — Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak para alumni UNSW (University of New South Wales) mengarahkan keahlian mereka dalam kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber, pendidikan, hingga energi berkelanjutan bagi kepentingan pembangunan nasional.

Seruan itu disampaikan Meutya sebagai pembicara kunci dalam acara UNSW Indonesia Alumni Reception bertema “Human Connection in a Digital World” di Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).

Meutya menegaskan, pengembangan teknologi tidak boleh berhenti pada penciptaan inovasi. Setiap inovasi wajib memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat, sekaligus mampu mengendalikan risiko yang ditimbulkannya.

“Menurut saya, kata kuncinya adalah bertanggung jawab. Bukan sekadar mendorong inovasi, kita percaya dan saya kira Australia juga memiliki semangat yang sama bahwa setiap inovasi harus dikembangkan secara bertanggung jawab,” ujar Meutya.

Keahlian UNSW dalam AI, ilmu data, dan keamanan siber dinilai relevan dengan kebutuhan Indonesia di tengah percepatan transformasi digital.

Alumni memegang posisi strategis untuk menjembatani pengetahuan akademik, pengalaman profesional, dan kebutuhan pembangunan, agar perkembangan teknologi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Hal ini membuka peluang untuk bertukar gagasan dan mengembangkan teknologi yang melayani serta melindungi manusia, bukan justru menjadi gangguan bagi kemanusiaan,” katanya.

Kontribusi alumni tidak terbatas pada teknologi digital. Meutya melihat peluang besar di pengembangan energi berkelanjutan, pendidikan, dan kesehatan.

Di bidang energi, keahlian dalam energi terbarukan dan sistem energi dapat memperkuat hubungan antara riset dan kebutuhan transisi energi Indonesia.

Sementara di sektor pendidikan, alumni dapat berperan melalui program mentoring, pelatihan, serta penguatan koneksi perguruan tinggi dengan industri untuk menyiapkan talenta sesuai kebutuhan dunia kerja.

Pembentukan kembali UNSW Indonesia Alumni Chapter diharapkan menjadi langkah konkret memperluas kontribusi tersebut. Jejaring alumni dinilai tidak cukup berfungsi sekadar tempat berkumpul, melainkan perlu tumbuh menjadi ruang pertukaran gagasan, kolaborasi lintas bidang, dan perumusan solusi bagi persoalan Indonesia.

“Pada akhirnya, kita berharap alumni chapter ini tidak hanya menjadi wadah bagi kita untuk bertemu, tetapi juga menjadi ruang untuk berdiskusi dan memberikan kontribusi pemikiran. Saya yakin kita semua ingin memberikan kontribusi yang lebih besar,” ujar Meutya.

Upaya itu sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Meutya turut menyoroti hubungan Indonesia dan Australia yang terus berkembang di tengah dinamika kawasan dan global.

Ia menyinggung pengalamannya selama 15 tahun sebagai anggota parlemen, termasuk keterlibatan dalam komite yang membidangi urusan luar negeri.

Australia menjadi salah satu negara pertama yang dikunjungi Presiden Prabowo Subianto sebelum pelantikan pada Oktober 2024. Meutya mendampingi kunjungan tersebut pada Agustus 2024.

Komunikasi dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese juga terus berlangsung, termasuk pertemuan dalam rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa beberapa hari sebelum acara alumni itu.

Menurut Meutya, hubungan kedua negara dapat menjadi landasan memperluas kerja sama, termasuk pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Meutya mengenang perjalanan pendidikannya di UNSW. Ia mengikuti program foundation studies pada 1996, melanjutkan studi bidang manufacturing engineering, dan lulus sebagai insinyur pada 2000.

Kembali ke Indonesia, ia memulai karier sebagai jurnalis sebelum terjun ke politik dan menjalani 15 tahun sebagai anggota parlemen. Kini ia memasuki tahun kedua sebagai Menteri Komunikasi dan Digital.

Pengalaman itu, menurutnya, membuktikan pendidikan dan jejaring internasional dapat menjadi bekal mengambil peran lebih besar bagi masyarakat dan negara.

“Bukan hanya untuk diri kita sendiri, bukan hanya untuk komunitas kita di sini, dan bukan hanya untuk alumni chapter ini, tetapi juga untuk bangsa Indonesia,” kata Meutya.

Warta Terbaru