![]() |
| Luhut Binsar Pandjaitan mengajak Universitas Tsinghua menggarap riset AI dan hilirisasi rumput laut di KEK Kura Kura Bali tahun ini. |
Executive Summary ▼
- Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan mengajak Universitas Tsinghua memperkuat riset AI di KEK Kura Kura Bali untuk mendukung teknologi pemerintahan.
- Pemerintah mendorong percepatan hilirisasi rumput laut nasional dengan mengadaptasi skema ekosistem industri nikel.
- Kemitraan Indonesia dan China diarahkan pada pembentukan laboratorium bersama, program penelitian terpadu, dan pengembangan SDM.
SiarWarta.com — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengajak Universitas Tsinghua asal China untuk memperkuat riset AI di KEK Kura Kura Bali guna mendongkrak efisiensi pelayanan publik.
Keterlibatan institusi global tersebut ditargetkan terealisasi dalam waktu dekat untuk memperkuat fasilitas pusat penelitian kecerdasan buatan yang sudah beroperasi di Denpasar.
Fokus kolaborasi teknologi ini diselaraskan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengoptimalkan government technology (GovTech).
Sistem digitalisasi terpadu ini disiapkan untuk menekan risiko korupsi dan meningkatkan transparansi layanan pemerintah.
Pemerintah menargetkan kerja sama dengan China tidak lagi berhenti pada impor peralatan atau transfer teknologi pasif.
Kerja sama bilateral diarahkan pada penyiapan ilmuwan, alih pengetahuan, dan pembentukan ekosistem inovasi bersama melalui perguruan tinggi.
Luhut mendorong Universitas Tsinghua membangun laboratorium bersama, merancang program penelitian terpadu, serta membuka skema publikasi ilmiah dengan akademisi lokal.
KEK Kura Kura Bali diproyeksikan menjadi pusat penghubung riset dan industri untuk kawasan Asia Tenggara.
Selain sektor digital, potensi maritim menjadi prioritas melalui percepatan hilirisasi rumput laut. Pemerintah menghentikan dominasi ekspor bahan mentah dan mewajibkan pengolahan menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Pengalaman membangun rantai pasok industri nikel dijadikan patokan untuk menggarap sektor kelautan ini.
Kehadiran investasi berbasis teknologi dinilai menjadi kunci utama dalam membentuk ekosistem pengolahan komoditas maritim yang berkelanjutan.
Capaian investasi China di Indonesia yang menembus angka 70 miliar dolar AS dalam satu dekade terakhir bakal diperluas ke sektor riset dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Kemitraan ekonomi kini digeser dari pembangunan fisik manufaktur menuju penguatan riset dan sains.
Langkah ini diambil untuk memastikan fasilitas industri yang dibangun berbanding lurus dengan peningkatan kualitas tenaga kerja lokal.
Hubungan antara dunia usaha dan institusi pendidikan tinggi ditargetkan mampu menghasilkan produk riset komersial yang menjawab kebutuhan pasar nasional.
